Mulia Milikmu, GURU [RYN]

elrisa.id - Seperti biasa, saat malam di jam istirahat, Yeni bercengkrama dengan keluarga. Bercerita tentang apa saja aktifitas dan kejadian yang masing-masing mereka alami sepanjang hari. Yeni sudah tujuh tahun mengabdi sebagai seorang guru SMP. Ia lolos seleksi PNS tidak lama setelah ia menyelesaikan kuliahnya.Rezeki anak solehah. 

Tidak berbeda dengan Dewi, kakak tertua Yeni yang juga seorang guru senior di sekolah dasar negeri. Ia sangat mencintai pekerjaannya dan sudah beberapa kali menerima penghargaan sebagai guru terbaik di daerah karena terobosan, kegiatan, prestasi dan banyak hal membanggakan yang telah ia lakukan untuk dunia pendidikan. Ia cerdas dan selalu aktif meski usianya kini sudah menjelang pensiun. Semenjak ditinggal meninggal oleh suaminya, Dewi meminta Yeni untuk tinggal bersamanya yang kini hanya sendiri saja karena anak-anaknya sudah berumah tangga dan hidup jauh diperantauan. 

Sementara Yeni yang terpaut usia lumayan jauh dengan Dewi juga sudah ditinggal orangtua mereka yang telah dipanggil sang pencipta beberapa tahun yang lalu. Dewi merasa bertanggungjawab untuk adiknya itu hingga ia nanti berjodoh dan harus meninggalkan dewi juga dengan keluarga barunya. “Aku heran sekali melihat kawan-kawan guru sekarang ini, setiap saat tidak pernah lepas dari gadgetnya bahkan saat masih mengajar dalam kelas. 

Kesal aku melihat anak-anak yang berisik tak beraturan sementara si gurunya masih saja asyik beselancar di dunia sosmednya dan lebih parah lagi asyik untuk melihat produk-produk yang kini bisa dipesan melalui Handphone saja. Aku sering berfikir apa mereka tidak ada waktu untuk melakukannya dirumah saja? Mengapa harus disekolah dan saat jam mengajar pula? Tapi aku tidak bisa berkomentar karena nanti pasti dikatain guru yang sok aktif lah, sok rajin lah, ahh.. serba salah rasanya.’ 

Sambil mengurut-urut kakinya yang terasa pegal dan menataap dalam dan lurus ke arah langit-langit rumah, Dewi berkesah tentang fenomena yang ia alami di sekolahnya. “ Idiiiih, kakak ini ada-ada saja! Sekarang itu kan sudah beda kurikulumnya kak. Kurikulum Merdeka lho! Sepertinya di sekolah kakak juga sudah melaksanakannya kan? Merdeka lho kak, merdeeekaa! 

Yang harus berekspresi itu bukan hanya murid-murid saja, guru juga harus merdeka pikirannya supaya ia tetap bisa menjaga kewarasan mentalnya menghadapi anak-anak sekarang yang kelakuannya banyak yang tidak sesuai dengan status mereka sebagai siswa. Apalagi soal hukum-menghukum, dengan alasan HAM dan perlindungan anak, polisi lah lawan kita jika  saja ada terjadi hukuman fisik dari guru ke siswanya. 

Malas donk kak kalau harus berhadapan dengan hukum karena kita ingin bertindak untuk siswa.” “ Hmmmm.., sepertinya ibu guru yang cantik ini belum faham betul ya soal kurikulum baru ini. Adikku sayang, sebaiknya kamu harus lebih banyak belajar, toh sudah banyak sekali panduan yang pemerintah sediakan untuk kita bisa belajar mandiri baik berupa teks ataupun video yang mudah untuk difahami, tinggal kitanya saja yang harus menanamkan niat murni dalam hati untuk mau menerima perubahan itu. 

Kakak sudah tua, dan sudah banyak melalui perubahan-perubahan dalam metode pendidikan. Dari dulu kami yang sudah senior-senior ini menjadikan pekerjaan kami sebagai ladang usaha dan tempat untuk memperoleh berkah. Tidak kaya memang, tapi puji syukur kepada sang pencipta, kini keponakan-keponakaanmu sudah sukses semua dan itu hanya dari biaya aku dan almarhum abangmu sebagai guru saja.” “ kita sudah beda zaman lho kak. 

Sekarang anak-anak gak butuh guru yang sok sibuk lagi. Semua  informasi yang dibutuhkan siswa sudah mudah didapat dari handphone pintar, jadi ngapain kita sibuk dan capek lagi kak? Jadi guru kreatif dan rajin itu juga ga ada untungnya. Aku ada beberapa rekan kerja yang aktif belajar dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang pemerintah canangkan. 

Banyak rencana yang ia ingin laksanakan disekolah untuk perubahan, tapi apa? Gak ada yang jalan tu! Sepertinya dia setres sendiri dengan tugas-tugas yang ia kerjakan karena gak ada yang berubah yang ia lakukan untuk sekolah itu.” “ Wah.. Siapa guru hebat itu? Kakak pengen kenalan deh rasanya. Adikku yang cantik, gak mungkin donk satu instansi dapat berubah jika hanya seorang saja yang berjalan dan berinisiatif untuk melakukan perubahan. 

Kalian harus berjalan bersama dan saling mendukung demi kemajuan sekolah kalian.” “ Ngapain capek-capek sih kak, jam aman untuk dapat tunjangan sertifikasi saja sudah cukup, ngapain nyari-nyari kesibukan lain kalau malah bikin pusing nantinya.” “ Kamu memang lucu dek. Cobalah keluar dari zona nyamanmu. Kita itu mengabdi bukan hanya sekedar mencari materi. Kakak ingat kata bijak yang mengatakan jangan lelah untuk mengajar karena mungkin saja akan ada satu tangan dari muridmu yang akan menarikmu ke syurga kelak. 

Sederhana kalimat itu dek, tapi kakak sangat yakin dengan maknanya. Guru itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Pemerintah juga sangat memuliakan guru, buktinya tunjangan yang kamu banggakan tadi itu juga sebagai apresiasi pemerintah kepada guru lho. Bukan hanya itu saja, coba lihat fenomena pengankatan PPPK yang jumlahnya sangat banyak untuk profesi guru, itu juga sebagai bukti betapa pemerintah ingin mengangkat drajat guru.” 

“Hmmmm.... Tapi semua itu gak lepas dari setor menyetor uang lho kak. Banyak yang gak layak l juga asal ada uang pasti lolos.” Dengan nada menyindir, Yeni memotong pembicaraan kakaknya. “ Tidak semua lho dek, itu hanya ulah dari oknum-oknum tertentu saja yang mengambil kesempatan dari keadaan itu. Intinya pemerintah telah mencoba bagaimana agar kehidupan guru di negara kita ini jadi lebih baik lagi. 

Ambillah hal-hal baik dari semua yang kita lihat agar kita selalu jadi orang-orang yang positif dan bijak. Belajarlah terus dan selalu ikuti perkembangan pendidikan. Perubahan itu akan selalu ada sesuai perkembangan zaman dan pemerintah juga akan terus gencar mendorong para guru untuk mengikuti perubahan itu. Jadilah salah satu pelopor perubahan itu dimulai dari tempatmu bekerja dulu.” “ Kalau sudah bicara soal guru, aku pusing deh sama kakak, panjang sekali ceramahnya. 

Nanti bagaimana kalau aku malah dijauhi sama rekan-rekan kerjaku? Kan ga asyik lagi donk di sekolah. Aku juga ingin lho seperti kakak yng walaupun sudah tua tapi masih mau belajar dan selalu jadi paforit siswa. Hanya saja aku sedikit gengsi laa,  masak ia aku yang lebih muda kalah kreatifnya dengan kakak yang sudah tua ini. Hahaha...”

Yeni memeletkan lidahnya ke arah Dewi sambil tertawa mengejek. “Kamu ini memang keterlaluan sekali. Untung kamu itu adikku, kalau tidak, sudah kutendang kamu keluar sana. Kakak malu donk nanti kalau ada cerita diluar sana yang bilang adeknya ini adalah guru yang kurang baik, bisa hancur la nama baikku,hehehe. Ayo muliakan dirimu sebagai guru. 

Jadilah guru yang  bukan guru biasa sehingga kamu bisa menjadi salah satu guru di negeri ini yang menghebatkan profesi guru itu sendiri.” Yeni mendekati kakanya itu kemudian ia memeluknya sambil berbisik di telinga Dewi. “Aku bangga sama kakak dan aku harus bisa lebih baik dari kakak karena akau akan mulai belajar  dan berbuat menjadi guru yang dirindukan setiap siswaku dan dibanggakan oleh negeriku.” 

Dewi tersenyum manis dan mencium pipi adiknya itu dengan lembut namun ada terlihat mata yang berkaca-kaca karena haru akan ucapan adiknya itu barusan. Sambil berlalu meninggalkan kakanya, Yeni berujar. “ Selamat hari guru kakakku sayaang.”


HAPPY TEACHER DAY

Dari Kami ELRISA.ID

Posting Komentar untuk "Mulia Milikmu, GURU [RYN]"