Kisahku Abadi di Kampung Sebelah
“‘Maaaak….”!
Suara manja yang selalu menyemangatiku datang dari arah
belakang saat aku sibuk mengkukur kelapa dengan kukuran tradisional dari kayu
yang sudah menghitam dan berminyak warnanya. Sepasang tangan kecil nan mungil
menghampiri dan melingkarkannya tepat dileherku, terasa agak menyesakkan nafas
memang, tetapi aku sangat Bahagia karenanya. Rutinitas yang setiap pagi Ridho
lakukan tiap ia bangun tidur. Ciuman manja yang ia sematkan dikedua pipiku tak
bisa aku hindari karena ia mendekap erat leherku dari arah belakang.
“Sudah sayang, umak mau cepat masaknya, udah bau jigong la
umak karna ludahmu nempel di pipi uma”’.
“iya..iya…,biar aja umak bau supaya gak ada yang berani
mencium umak selain anak ganteng umak ini”.
Sambil tertawa, Ridho malah semakin beringas mengotori
wajahku dengan air liurnya yang terasa hangat dari bibir manisnya itu.
“Iya sayang.. cepat sana kamu pergi mandi, anak kelas satu
SD umak yang tampan gak boleh terlambat kesekolah ya, kamu nanti harus bisa
jadi orang yang sukses”.
Ridho melepaskan tangannya dan segera mengambil posisi
duduk berselonjor menghadap padaku, seolah banyak pertanyaan yang ingin ia
sampaikan.
“Umak, nanti kalo sudah besar terus aku bisa kerja seperti
bapak – bapak di kantor itu , apa aku
bisa jadi orang kaya mak? Kalau aku nanti kerja disitu, uangku jadi banyaaaaak
sekali, terus aku nanti ganti rumah kita jadi besar, ada kamar ayah dan umak,
ada juga kamarku sendiri jadi umak sama ayah gak sempit lagi tidurnya yakan
mak?”
Kuhentikan sejenak pekerjaanku. Kuletakkan batok kelapa
yang masih tersisa daging kelapanya. Kuusap kepala anakkku yang sangat cerdas
itu.
“Iya sayang,boleh saja asal Ridho yang rajin belajarnya
pasti nanti bisa kerja dimana saja bahkan ditempat yang lebih baik dari itu ‘.
( sambal kutunjuk kearah Perusahaan Gas Mandailing yang jaraknya sangat dekat
dengan rumah kecilku in)i.
“Aduuuh anak ayah sedang cerita seru ya sama umak, ayah
mau dengar juga lo apa ceritanya, tapi sambil mandi dan bersiap berangkat
sekolah ya nak”.
Jamal, suamiku yang baru saja tiba karena selesai subuh ia
biasa mencari keong untuk panganan itik piaraan kami. Tak lupa juga seperti
biasa ia membawakan 2 potong pisang goreng hangat kesukaan Ridho yang ia beli
di lopo kopi dekat dengan sawah tempat ia mencari keong. Dengan entengnya Jamal
mengangkat jagoannya itu keluar rumah menuju parit kecil aliran air sawah di
belakang rumah wasiat turun temurun peninggalan keluarga Jamal .Kami selalu
memanfaatkan air itu untuk kebutuhan sehari – hari seperti mandi dan mencuci
karena walau tidak besar dan deras tapi selalu mengalir dengan baik dan airnya
juga bersih. Sambil berceloteh panjang lebar, ayahnya tidak lalai memandikan
Ridho dengan senangnya.
Melihat suamiku dengan gembiranya memakaikan pakaian Ridho,
tak lupa kuambil sepiring nasi hangat dari periuk diatas tungku api yang sedari
pagi sudah aku jerangkan. Kuremas dua potong goreng pisang hangat yang
dibawakan Jamal dan kutaburi sedikit kelapa yang baru saja selesai ku kukur
tadi. Sederhana memang, tapi rasanya cukup gurih, manis dan yang pasti Ridho
sangat menyukai sarapan sederhananya itu. Masih lanjut Ridho bercerita jika ia
juga ingin membeli mobil besar untuk ayahnya agar tidak susah mengantar Ridho
kesekolah katanya, cepat – cepat aku suapkan nasi ditanganku ke mulut mungil
anakku itu dan dengan lahap ia menghabiskan suapan demi suapan yang aku
berikan.
“Aaahh….ayah juga mau la, kok hanya anak ayah saja yang di
suap?” Kata Jamal menggoda
Kuberikan juga beberapa suapan untuk suamiku yang sangat
penyabar itu.
“Ayo nak kita berangkat”.
Sambil mendudukkan Ridho di bagian depan sepeda batang
Jamal yang sudah butut itu, aku mencium kedua pipi pangeran tampanku itu. Tak lupa Ridho mendekap erat badanku dan
tepat pipinya bersandar di perutku ia berkata,
“Dek, jaga umak ya, abang pergi sekolah dulu. Nanti kalo
adek sudah keluar , kita sekolah sama – sama ya dek, abang yang bonceng adek
kesekolah naik sepeda ayah ini”.
Ya,, saat ini aku memang sedang mengandung 7 bulan, tak
sabar rasanya melihat bagaimana melihat reaksi
Ridho saat bertemu dengan adiknya nanti.
Sekembali Jamal mengantar Ridho kesekolah, Suamiku memanggil aku untuk mengajak berbicara yang
sebenarnya sudah beberapa hari ingin ia utarakan, namun karena khawatir dengan
kondisiku maka Jamal urung menyampaikannya.
“Mak Ridho, aku ingin menyampaikan jika 3 hari yang lalu
aku dan beberapa kepala keluarga lainnya yang tinggal disekitar PGM ini untuk
membuat kesepakatan agar kita sebaiknya segera meninggalkan kampung ini dengan
konpensasi sekian rupiah sebagai ganti rugi dari tanah dan sawah yang kita
tinggali dan Kelola sebagai tempat usaha, mereka memberi waktu 2 minggu untuk
kami berfikir dan memberi keputusan apakah kita bersedia atau tidak. Sangat
berat sebenarnya mengingat ini adalah rumah dan tanah warisan dari orangtuaku,
disini kami dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih dari orang tua dan
alam yang asri. Tapi sejak adanya perusaan itu, segalanya berubah, mulai dari
kesrian dan kebersihan air, udara dan tanah sampai pada pola kehidupan
masyarakatnya juga jauh berubah. Bagaimana menurut kamu? Apa kita setuju saja
mak Ridho?” Dengan pandangan yang jauh dan terlihat sedikit sedih terpancar
jamal menatap kearah tiang – tiang besar dari PGM yang dapat terlihat jelas
dari pinti rumah.
“Aku akan mengikut kamu saja suamiku, apalagi sudah
beberapa kali keadaan yang mengkahawatirkan sudah terjadi saat adanya kebocoran
pipa – pipa gas itu yang sudah meneln beberapa korban rasanya memang sudah
kurang man jika kita masih menetap mempertahankan harta warisan ini lebih lama
lagi. Aku juga khawatir efek jangka Panjang dari limbah – limbah yang pasti
lambat laun akan semakin luas penyebarannya terhadap Kesehatan dan perkembangan
Ridho dan adik nya ini”. Aku menjawaab sambal mengelus perut besarku.
“Itulah juga yang selama ini aku pikirkan. Kejadian
kemarin yang tiba – tiba membuat banyak warga yang terpapar gas membuat aku
semakin yakin untuk kita pindah saja dari kampung ini,Mana tau di Kecamatan
sebelah kita bisa lebih aman apalagi uwak Ridho juga sudah sampaikan jika
didekat rumahnya ada rumah sederhana yang dijual. Semoga saja uang dari PGM itu
nantinya bisa membayar rumah yang akan dibeli nanti”. Tambah Jamal dengan nada
putus asa.
“Baiklah, coba kamu sepakati saja dan komunikasikan dengan
warga lainnya, karena aku juga yakin, lambat laun kita juga akan tergusur
sendiri jika makin lama kondisi disini makin tidak kondusif lagi untuk
pemukiman masyarakat”.
Dua minggu berlalu, dengan dana ganti rugi yang kami
terima dari PGM itu akhirnya kami bisa pindah ke kecamatan tetangga yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari desa kami sebelumnya. Dengan bantuan uwak Ridho, akhirnya
kami bisa menempati rumah kecil sederhana yang sudah terbuat dari batu bata,
tidak seperti rumah sebelumnya yang hanya terbuat dari kayu namun memiliki
banyak kenangan indah disana.
“ mak, Ridho mau mandi air panas, sudah lama Ridho gak mandi air panas lagi di sungai, ridho mau mandi disungai dekat rumah kita yang dulu mak”. Rengek Ridho yang mungkin merindukan suasana sungai belakang rumah dan sungai aliran air panas yang ada disana. Kenapa tidak, mungkin karena sekarang ridho sudah mandi di kamar mandi dalam rumah dengan fasilitas air PAM yang kualitas airnya juga tergantung cuaca.
Begitulah akhirnya kami harus meninggalkana kampung halaman yang penuh cerita bagi kami dan sesekali disaat Jamal sedang tidak bekerja , ia bembawa kami berkeliling ke desa kami sebelumnya sambal membawa Ridho untuk menikmati air panas dengan merendamkan kakinya yang kecil disungai air panas itu. Jamal juga tetap tak lupa untuk bercerita tentang keadaan desa itu agar Ridho tidak lupa dengan kampung halaman mereka itu.
Selamat membaca!

Posting Komentar untuk "Kisahku Abadi di Kampung Sebelah"
Posting Komentar