Kisahku Abadi di Kampung Sebelah

 



***

“‘Maaaak….”!

Suara manja yang selalu menyemangatiku datang dari arah belakang saat aku sibuk mengkukur kelapa dengan kukuran tradisional dari kayu yang sudah menghitam dan berminyak warnanya. Sepasang tangan kecil nan mungil menghampiri dan melingkarkannya tepat dileherku, terasa agak menyesakkan nafas memang, tetapi aku sangat Bahagia karenanya. Rutinitas yang setiap pagi Ridho lakukan tiap ia bangun tidur. Ciuman manja yang ia sematkan dikedua pipiku tak bisa aku hindari karena ia mendekap erat leherku dari arah belakang.

“Sudah sayang, umak mau cepat masaknya, udah bau jigong la umak karna ludahmu nempel di pipi uma”’.

“iya..iya…,biar aja umak bau supaya gak ada yang berani mencium umak selain anak ganteng umak ini”.

Sambil tertawa, Ridho malah semakin beringas mengotori wajahku dengan air liurnya yang terasa hangat dari bibir manisnya itu.

“Iya sayang.. cepat sana kamu pergi mandi, anak kelas satu SD umak yang tampan gak boleh terlambat kesekolah ya, kamu nanti harus bisa jadi orang yang sukses”.

Ridho melepaskan tangannya dan segera mengambil posisi duduk berselonjor menghadap padaku, seolah banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan.

“Umak, nanti kalo sudah besar terus aku bisa kerja seperti bapak – bapak di kantor itu   , apa aku bisa jadi orang kaya mak? Kalau aku nanti kerja disitu, uangku jadi banyaaaaak sekali, terus aku nanti ganti rumah kita jadi besar, ada kamar ayah dan umak, ada juga kamarku sendiri jadi umak sama ayah gak sempit lagi tidurnya yakan mak?”

Kuhentikan sejenak pekerjaanku. Kuletakkan batok kelapa yang masih tersisa daging kelapanya. Kuusap kepala anakkku yang sangat cerdas itu.

“Iya sayang,boleh saja asal Ridho yang rajin belajarnya pasti nanti bisa kerja dimana saja bahkan ditempat yang lebih baik dari itu ‘. ( sambal kutunjuk kearah Perusahaan Gas Mandailing yang jaraknya sangat dekat dengan rumah kecilku in)i.

“Aduuuh anak ayah sedang cerita seru ya sama umak, ayah mau dengar juga lo apa ceritanya, tapi sambil mandi dan bersiap berangkat sekolah ya nak”.

Jamal, suamiku yang baru saja tiba karena selesai subuh ia biasa mencari keong untuk panganan itik piaraan kami. Tak lupa juga seperti biasa ia membawakan 2 potong pisang goreng hangat kesukaan Ridho yang ia beli di lopo kopi dekat dengan sawah tempat ia mencari keong. Dengan entengnya Jamal mengangkat jagoannya itu keluar rumah menuju parit kecil aliran air sawah di belakang rumah wasiat turun temurun peninggalan keluarga Jamal .Kami selalu memanfaatkan air itu untuk kebutuhan sehari – hari seperti mandi dan mencuci karena walau tidak besar dan deras tapi selalu mengalir dengan baik dan airnya juga bersih. Sambil berceloteh panjang lebar, ayahnya tidak lalai memandikan Ridho dengan senangnya.

Melihat suamiku dengan gembiranya memakaikan pakaian Ridho, tak lupa kuambil sepiring nasi hangat dari periuk diatas tungku api yang sedari pagi sudah aku jerangkan. Kuremas dua potong goreng pisang hangat yang dibawakan Jamal dan kutaburi sedikit kelapa yang baru saja selesai ku kukur tadi. Sederhana memang, tapi rasanya cukup gurih, manis dan yang pasti Ridho sangat menyukai sarapan sederhananya itu. Masih lanjut Ridho bercerita jika ia juga ingin membeli mobil besar untuk ayahnya agar tidak susah mengantar Ridho kesekolah katanya, cepat – cepat aku suapkan nasi ditanganku ke mulut mungil anakku itu dan dengan lahap ia menghabiskan suapan demi suapan yang aku berikan.

“Aaahh….ayah juga mau la, kok hanya anak ayah saja yang di suap?”  Kata Jamal menggoda

Kuberikan juga beberapa suapan untuk suamiku yang sangat penyabar itu.

“Ayo nak kita berangkat”.

Sambil mendudukkan Ridho di bagian depan sepeda batang Jamal yang sudah butut itu, aku mencium kedua pipi pangeran tampanku itu.  Tak lupa Ridho mendekap erat badanku dan tepat pipinya bersandar di perutku ia berkata,

“Dek, jaga umak ya, abang pergi sekolah dulu. Nanti kalo adek sudah keluar , kita sekolah sama – sama ya dek, abang yang bonceng adek kesekolah naik sepeda ayah ini”.

Ya,, saat ini aku memang sedang mengandung 7 bulan, tak sabar rasanya melihat bagaimana melihat reaksi  Ridho saat bertemu dengan adiknya nanti.

Sekembali Jamal mengantar Ridho kesekolah, Suamiku  memanggil aku untuk mengajak berbicara yang sebenarnya sudah beberapa hari ingin ia utarakan, namun karena khawatir dengan kondisiku maka Jamal urung menyampaikannya.

“Mak Ridho, aku ingin menyampaikan jika 3 hari yang lalu aku dan beberapa kepala keluarga lainnya yang tinggal disekitar PGM ini untuk membuat kesepakatan agar kita sebaiknya segera meninggalkan kampung ini dengan konpensasi sekian rupiah sebagai ganti rugi dari tanah dan sawah yang kita tinggali dan Kelola sebagai tempat usaha, mereka memberi waktu 2 minggu untuk kami berfikir dan memberi keputusan apakah kita bersedia atau tidak. Sangat berat sebenarnya mengingat ini adalah rumah dan tanah warisan dari orangtuaku, disini kami dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih dari orang tua dan alam yang asri. Tapi sejak adanya perusaan itu, segalanya berubah, mulai dari kesrian dan kebersihan air, udara dan tanah sampai pada pola kehidupan masyarakatnya juga jauh berubah. Bagaimana menurut kamu? Apa kita setuju saja mak Ridho?” Dengan pandangan yang jauh dan terlihat sedikit sedih terpancar jamal menatap kearah tiang – tiang besar dari PGM yang dapat terlihat jelas dari pinti rumah.

“Aku akan mengikut kamu saja suamiku, apalagi sudah beberapa kali keadaan yang mengkahawatirkan sudah terjadi saat adanya kebocoran pipa – pipa gas itu yang sudah meneln beberapa korban rasanya memang sudah kurang man jika kita masih menetap mempertahankan harta warisan ini lebih lama lagi. Aku juga khawatir efek jangka Panjang dari limbah – limbah yang pasti lambat laun akan semakin luas penyebarannya terhadap Kesehatan dan perkembangan Ridho dan adik nya ini”. Aku menjawaab sambal mengelus perut besarku.

“Itulah juga yang selama ini aku pikirkan. Kejadian kemarin yang tiba – tiba membuat banyak warga yang terpapar gas membuat aku semakin yakin untuk kita pindah saja dari kampung ini,Mana tau di Kecamatan sebelah kita bisa lebih aman apalagi uwak Ridho juga sudah sampaikan jika didekat rumahnya ada rumah sederhana yang dijual. Semoga saja uang dari PGM itu nantinya bisa membayar rumah yang akan dibeli nanti”. Tambah Jamal dengan nada putus asa.

“Baiklah, coba kamu sepakati saja dan komunikasikan dengan warga lainnya, karena aku juga yakin, lambat laun kita juga akan tergusur sendiri jika makin lama kondisi disini makin tidak kondusif lagi untuk pemukiman masyarakat”.

Dua minggu berlalu, dengan dana ganti rugi yang kami terima dari PGM itu akhirnya kami bisa pindah ke  kecamatan tetangga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa kami sebelumnya. Dengan bantuan uwak Ridho, akhirnya kami bisa menempati rumah kecil sederhana yang sudah terbuat dari batu bata, tidak seperti rumah sebelumnya yang hanya terbuat dari kayu namun memiliki banyak kenangan indah disana.

“ mak, Ridho mau mandi air panas, sudah lama  Ridho gak mandi air panas lagi di sungai, ridho mau mandi disungai dekat rumah kita yang dulu mak”.  Rengek Ridho yang mungkin merindukan suasana sungai belakang rumah dan sungai aliran air panas yang ada disana. Kenapa tidak, mungkin karena sekarang ridho sudah mandi di kamar mandi dalam rumah dengan fasilitas air PAM yang kualitas airnya juga tergantung cuaca.

Begitulah akhirnya kami harus meninggalkana kampung halaman yang penuh cerita bagi kami dan sesekali disaat Jamal sedang tidak bekerja , ia bembawa kami berkeliling ke desa kami sebelumnya sambal membawa Ridho untuk menikmati air panas dengan merendamkan kakinya yang kecil disungai air panas itu.  Jamal juga tetap tak lupa untuk bercerita tentang keadaan desa itu agar Ridho tidak lupa dengan kampung halaman mereka itu.


Selamat membaca! 



Posting Komentar untuk "Kisahku Abadi di Kampung Sebelah"