Lebaran di Syurga [RYN]
“Santi,ayo bangun,mari bantu mamak menyiapkan sahur kita,kamu panaskan air di periuk kecil itu supaya masak nasinya lebih cepat”.
“iya mak”,jawabku dengan suara lembut sambil mengucek
mataku karena masih terasa sangat berat untuk beranjak dari tempat tidurku yang
hanya beralas sebuah tikar tipis dari anyaman daun pandan berduri dilapisi
sepotong kain panjang.
Sambil merebus air untuk menanak nasi,kulihat ibuku keluar
rumah membawa sebuah baskom kecil menuju kolong rumah panggung kami yang terbuat dari papan dan kini
terlihat sudah mulai lapuk dimakan usia.mamakku dengan teliti dan hati – hati
mencari telur itik yang setiap hari berada di kolong rumah untuk dijadikan
santapan hidangan sahur kami hari ini.
“Alhamdulillah”, gumam mamak dalam hatinya karena
mendapati dua butir telur itik yang masih sangat segar.Dengan cekatan mamak
menyiapkan hidangan sahur kami dengan lauk sepiring telur itik dadar yang
sangat gurih dan nikmat.
“Sana bangunkan ayah dan adikmu supaya kita segera makan,waktu
imsak tinggal setengah jam lagi”,kata mamak sambil melihat jam dinding merk
saiko yang tergantung lusuh peninggalan nenekku dulu.
Selesai bersantap sahur,ayahku keluar rumah untuk duduk
sejenak menanti imsyak dan adzan subuh sembari menyulut sebatang rokok karena
nikmat sekali kata ayah jika sehabis makan
itu merokok. Didalam rumah aku dan ibu membereskan sisa makanan dan
piring kotor yang nanti akan kubawa ke surau dekat rumahku untuk dicuci dan
sekalian sholat subuh di surau itu.
***
Sambil memasukkan piring – piring kotor itu kedalam
ember,aku sempatkan bertanya pada mamakku yang terlihat sedang mempersiapkan
diri juga untuk pergi bekerja dengan teman ibu – ibu lainnya di desaku sebagai
buruh tani.
“Mak,empat hari lagi kita sudah lebaran,aku pengen punya
baju baru,gak usah yang mahal – mahal asalkan ada aja yang baru aku pasti
senang mak. Di pasar dekat kampung kita ada buka toko pakaian baru yang murah –
murah lho mak harganya,aku tau karena kemarin aku diajak si Ijah menemani dia
belanja ditoko itu mak”.Rayuku ke mamak yang hanya terlihat senyum – senyum
saja.
“yaa,mamak usahakan ya,mamak juga kasihan melihat kamu dan
adikmu itu belum punya baju dan sandal baru untuk lebaran ini. Doakan nanti
mamak memperoleh rezeki yang lebih hari ini ya supaya nanti kita sama – sama
membeli baju barunya.Kemaren mamak diajak sama wak latifah dan ibu-ibu lainnya
untuk mencari serpihan emas sisa mandompeng di tambangnya pak jakayo,biasanya
hasilnya bagus di lahan tambangnya itu”. Jawab mamak dengan penuh semangat.
Waktu berjalan dengan cepat,waktu seudah menunjukkan pukul
07.30 pagi,mamak pun pamit untuk berangkat bekerja dengan ibu – ibu lainnya
yang sudah berkumpul agar berangkat bersama. Ayahku yang sedari selesai sholat
subuh kembali tidur tidak sempat melihat mamakku berangkat kerja krena masih
sangat ngantuk karena semalam suntuk begadang di warung kopi diseberang rumah
kami.
***
Mentari terik menyengat kulit,waktu sudah menjukkan pukul
13.00 siang,kuangkati kain jemuran yang sudah kering mengeras akibat terpaan
sengatan matahari. Kuajak adikku Rohim yang masih berusia lima tahun untuk duduk
diebelahku sambil bercerita tentang kancil yang cerdik.Rohim sangat senang
mendengarnya dan ia tidak pernah bosan jika cerita itu berulang-ulang
kuceritakan sampai ia mengantuk mendengar ceritaku sambil menahan suara
keroncongan diperutnya yang sedari tadi sering terdengar ditelingaku.Rohim yang
sudah terpejam tetapi belum terlelap berbicara dengan nada lemah,
“kak,mamak masih lama pulang? Aku rindu sama mamak.Tadi
pagi waktu sahur telur dadar mamak enak sekali kan kak”.
Aku menatap wajah polos adikku dan membelai rambutnya yang
sudah mulai memanjang menutupi keningnya.
“Sebentar lagi mamak pulang dek,kamu tidur saja dulu,pas
bangun nanti pasti mamak sudah pulang dan akan kakak minta dimasakin lagi telur
dadar seperti tadi pagi”.
Adzan ashar berkumandang.Mentari mulai meredup tapi aku
belum melihat tanda-tanda mamakku akan pulang. Pikek anak wak ijah yang mengajak
mamakku kerja ke tambang itu sempat bertanya apa mamakku sudah pulang.Tentu saja
aku jawab tidak, mamakku belum pulang apalagi perginya dengan wak ijah pasti
pulangnya juga akan bersama wak Ijah dan ibu-ibu lainnya.
***
Hari semakin petang,waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, aku
mulai memasak beras yang tinggal satu mug lagi di kaleng tempat penyimpanan
beras kami,khawatir jika nanti mamak pulang kesorean, sudah ada yang dimakan
waktu berbuka puasa tiba nanti.
“Santi,santi..ayahmu dimana?’
Tiba- tiba terdengar suara teriakan bang Hasan yang
bekerja sebagai kuli panggul di tambang emas pak jakayo.
“ada apa bang? Ayahku ada di warung seberang sana.Apa yang
terjadi bang”.
Tanyaku dengan perasaan yang sangat gelisah.
Dengan wajah yang pucat,nafasnya ngos-ngosan dan terbata
ia berkata, “Buka saja pintu rumahmu itu lebar-lebar santi, dan gelarkan tikar
ya,sebentar lagi mereka akan sampai”.
Dengan gugup aku menuruti perintah bang Hasan tapi karena
penasaran aku tetap bertanya “ada apa sebenarnya bang? Siapa yag mau datang
kesini bang?”
Tapi bang hasan sama sekali tidak menyahutiku,ia hanya
meraih tangan adikku Rohim dam memeluknya dengan erat.
Ayahku yang mendengar suara teriakan bang Hasan dari warung seberang bergegas pulang dan kebungungan melihat rumah kecil kami terbuka lebar dengan hamparan tikar yang sudah tertata. Belum sempat ayah bertanya apa gerangan yang terjadi,dari aarah jalan menuju rumahku terlihat beberapa pria yang menandu sesuatu dalam kain sarung yang disematkan pada dua bilah kayu.mereka secara cepat berjalan menuju kearah rumahku.
Tanpa menggunakan
alas kaki dan dengan pakaian yang kotor diselimuti lumpur mereka masuk kedakam
rumahku secara hati-hati agar benda yang mereka angkat tidak terjatuh. Dengan
perlahan mereka meletakkan benda yang mereka tandu itu diatas tikar anyaman
coklat itu dan, pelan-pelan salah seorang dari mereka membuka kain sarung yang
menutupi benda besar dan panjang itu.Dan betapa terkejutnya aku melihat sosok
yang ada dibalik kain sarung basah berlumpur itu adalah wajah mamakku yang
sedari tadi kunantikan kehadirannya.
***
“Maaaak….maaaaak…..bangun maaaak”
Teriakanku pecah melihat wajah pucat tak bernyawa
terbaring dingin dihadapanku.Adikku Rohim yang sedari tadi ketakutan juga ikut
berteriak dan melompat memeluk tubuh mamakku yang masih basah berlumpur. Ayahku
hanya mampu terpaku tak percaya dengn apa yang ia lihat dihadapannya.sambil
meneteskan air mata ia terlihat tegar menyambut para warga yang mulai
berdatangan untuk melihat mamakku yang sudah terbujur kaku.
Pagi hari,tiga hari menuju lebaran idul fitri yang
suci,aku dan adikku melepas kepergian mamakku yang sangat mulia ketempat
peristirahatan terakhirnya. Ayahku turut memandu ibuku untuk yang terakhir
kalinya. Dalam pelukku, Rohim yang sedari kemarin sore selalu bertanya tentang
keadaan mamak terlihat sangat lemas dan tetap bertanya, “kak..mamak mau kemana?
0rang – orang itu mau bawa mamak kemana kak?”
“Mamak mau ke syurga dek,mamak mau lebaran di syurga”.
Jawabku dengan rasa yang sangat hancur,aku sangat menyesal mengingat permintaanku untuk dibelikan baju baru.Andai aku tak meminta baju baru,mungkin mamak tidak akan pergi ke tambang,mungkin mamak tidak akan tertimbun longsoran tambang dan mungkin mamak masih ada disini bersamaku dan Rohim dan mungkin kami akan lebaran bersama dengan sederhana tanpa baju baru.

Posting Komentar untuk "Lebaran di Syurga [RYN]"
Posting Komentar